Jumat, 15 Desember 2017

            Setiap anak Adalah Unik

Bagiku suatu pengalaman tersendiri menjadi seorang guru PAUD.  Belajar mengenali berbagai macam karakter dan cara penanganan anak.

Setiap awal tahun ajaran baru adalah pengalaman luar biasa. Belajar memikat hati anak-anak untuk nyaman bersekolah. 
Sebuah transisi dari lingkungan rumah ke sekolah. Ada yang menangis, minta ditunggu orang tua, minta pulang saja, ada juga yang biasa saja langsung ditinggal orang tua. Ya semua butuh adaptasi atau penyesuaian terhadap lingkungannya.

Ada anak yang membuat saya termotivasi untuk belajar dan terus belajar . Sebut saja namanya ahmad, anak ini lahir di Arab dan baru enam bulan sebelum sekolah dia pindah ke Indonesia. Kosakatanya masih sangat minim sekali tapi kalau kita bicara dia faham hanya saja masih kesulitan untuk mengungkapkan jawabannya. Keinginannya kuat dan punya prinsip. 2 bulan sekolah ditunggu oleh ibunya. Ketika anak-anak yang lain sudah tidak ada yang ditunggu lagi.

Ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi saya. Sejak kecil belum pernah sekolah atau berpisah dengan ibunya. Ada dua hal yang harus saya yakinkan. Pertama meyakinkan kepada ibunya bahwa anaknya akan baik-baik saja. Kedua meyakinkan kepada anaknya kalau di sekolah itu menyenangkan dan ibunya akan segera datang menjemputnya.

 Saya dapat memahami ketika ibunya merasa berat meninggalkannya. Karena memang diawal sekolah masih ada beberapa yang menangis dan saya harus menghiburnya satu persatu. Setiap kali istirahat saya berusaha membuka diskusi dengan si ibu yang intinya membuat ibu itu yakin untuk meninggalkan anaknya. Karena sesungguhnya perasaan seorang ibu sangat berpengaruh dengan kondisi psikis anak. Ketika ibunya dengan lega berpamitan Insyaa Allah anak mudah ditangani. Namun ketika hati sang ibu berat sang anakpun merasakan hal yang sama.

Tibalah hari yang disepakati.  Sang ibu siap menitipkan si buah hati. Perlahan saya pun mendekati, sang ibu dengan berat berpamitan kemudian berlalu pergi. Reaksi sang anak pun muncul menangis, meronta hendak berlari, sekuat tenaga saya memegangi, memeluknya erat dan meyakinkan bahwa sang ibu akan segera datang menjemput kembali .  Mulailah aku mencari ide yang bisa menenangkannya.  
 Alhamdulillah tak berapa lama pun sudah terdiam. Karena Ahmad nyaman di depan maka akhirnya saya panggil teman-teman sekelasnya. Dan saya sampaikan kalau kita akan belajar di depan.

Alhamdulillah setelah beberapa hari sejak ditinggal Ahmad mulai merasa nyaman. Ibunya sempat mengintip sejenak dari jendela ketika akan meninggalkannya. Memastikan kalau anaknya baik-baik saja. 
Ya saya bersyukur beberapa cara yang saya
lakukan ada hasilnya, mulai dari home visit, beri hadiah, pesan suara dan komunikasi akhirnya membuatnya nyaman untuk berada di sini. Selesai tantangan yang pertama selanjutnya menstimulasinya dalam berbahasa. Karena semenjak kecil dia sering lihat film berbahasa Inggris jadi dia lebih faham bahasa inggris daripada bahasa Indonesia. Ya butuh proses dalam hal ini. Stimulasi yang lebih intens di rumah dan di sekolah yang jadi solusinya. Alhamdulillah setelah satu tahun mulai terlihat perkembangannya sudah mulai mengungkapkan sebuah kalimat sederhana. Mulai membangun komunikasi dengan teman-temannya.
Ada hal yang saya kagumi diawal menjadi wali kelasnya. Dia tidak akan mau pulang sebelum berpamitan dan salim dengan saya. Ketika saya sedang sholat pun dia akan menunggunya. Membuat saya terharu.
Setiap anak berbeda, dengan segala keunikannya masing-masing. Menjadi PR bagi kita untuk mengembangkan setiap anak sesuai kapasitasnya masing - masing .

# Day 20
# 30 DWC jilid 10
# Squad 2 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku sumber inspirasiku Masih ku ingat betul peristiwa saat itu. Kenangan 10 tahun silam. Jadi anak rantau di kota perindustrian.  Se...