Lisan
"Ajining diri gumantung saka kedhaling lathi." Begitulah peribahasa jawa menyebutkan. Bahwa, harga diri manusia tergantung dari ucapan lisannya. Pelajaran kepribadian yang sejak SMP dulu kudapatkan masih melekat dalam ingatan. Dan menjadi pengingat diri untuk lebih berhati-hati dengan segala ucapan lisan.
Ada sebuah cerita dari buku qiro'ah bahasa arab tentang lisan yang masih kuingat dalam benakku.
Suatu hari seorang tuan minta tolong kepada pelayannya untuk dibelikan daging kambing baik. Beliau berpesan belikanlah bagian yang paling baik dari kambing tersebut. Sang pelayan pun menjawab "baik tuan"
Sepulang dari pasar sang pelayan pun menyerahkan daging beliannya kepada sang tuan. Sang tuan kaget melihatnya, dan berkata :" mengapa engkau belikan lidah kambing bagiku tidak adakah daging yang lebih baik? "
Sang pelayan pun menjawab "ini sudah yang paling baik tuan." Dan sang tuan berkata lagi "kalau begitu belikan saya yang paling buruk." Sang pelayan pun menjawab "baik tuan." bersegera pelayan itu berangkat ke pasar lagi.
Tak seberapa lama sang pelayan pun kembali. Dan memberikan daging kambing tersebut ke tuannya. Dan apa yang terjadi? Sang tuan pun marah "wahai pelayan apakah engkau hendak menghina diriku. Ketika aku minta daging yang baik engkau berikan lidah dan kini aku minta yang buruk pun engkau belikan lidah pula."
Sang pelayan pun dengan tenang menjelaskan." maaf tuan tahanlah dulu amarah mu. Biar aku jelaskan terlebih dahulu hakikat kenapa saya membelikan anda lidah. Sesungguhnya lidah adalah bagian yang paling baik karena dengannya kita bisa masuk surga. Pun lidah pula juga bagian paling buruk karena bisa mengantarkan kita ke neraka. Begitulah kisah sang tuan dan pelayannya.
Dari Abu Abdur Rahman yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani ra. bahwasannya Rosululloh Muhammad saw bersabda:
“Sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata dengan suatu perkataan dari apa-apa yang diridhoi oleh Alloh Ta’ala, ia tidak mengira bahwa perkataan itu akan mencapai suatu tingkat yang dapat dicapainya, lalu Alloh mencatat untuknya bahwa ia akan memperoleh keridhoan-Nya sampai pada hari ia menemui-Nya -yakni hari kematiannya atau pada hari kiamat nanti. Dan sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata dengan suatu perkataan dari apa-apa yang menjadikan kemurkaan Alloh, ia tidak mengira bahwa perkataan itu akan mencapai suatu tingkat yang dapat dicapainya, lalu Alloh mencatatkan untuknya bahwa ia akan memperoleh kemurkaan-Nya sampai pada hari ia menemui-Nya” (Diriwayatkan oleh Malik dalam kitab Al-Muwaththa’ dan juga oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadits hasan shohih)
# Day 28
# 30 DWC jilid 10
# Squad 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar