Minggu, 17 Desember 2017

Buah Hatiku Amanah Allah 

Anak kita adalah titipan Allah kepada kita. Amanah yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya. Lalu bagaimanakah cara kita menjaganya? 
Bukan kemampuan saya untuk menjawab itu. Karena saya masih dalam proses menjalankan. Belum terhitung berhasil. Anak saya masih kecil-kecil. Tapi saya ingin berbagi pengalaman saja. 
Setiap hari saya bekerja sebagai seorang guru. Setiap hari pula saya mengajak kedua anak saya dalam setiap acara. Ya karena saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Rutinitas kami berangkat pagi jam setengah tujuh bertiga. Dengan vario merah melaju dengan kecepatan sedang 40km/jam. Menyusuri jalan yang cukup ramai apalagi kalau berangkat sudah lebih dari jam setengah tujuh jalanan mulai macet, pun kalau berbarengan dengan lewatnya kereta maka kita harus bersabar menunggu diperlintasan. 
Tiba disekolah sang kakak langsung salim dan berangkat ke SD dengan berjalan. Kebetulan sekolahnya berdekatan dengan TK tempat saya mengajar. Sedang adik bersekolah ditempat saya mengajar. Mulailah ujian yang pertama yang awalnya berangkat semangat tanpa masalah tiba di sekolah tiba-tiba merengek minta sesuatu. Padahal waktu sudah memburu tugas menyambut anak-anak yang lain sudah menanti. Disinilah kesabaran diuji mencoba mengajak berdiskusi. "Nak ini sudah jam 7 saatnya adek sekolah dan umi mengajar. Adek sekolah dengan Ustadzah umi belajar dengan teman-teman di kelompok B." 
" Tidak mau, aku maunya sama ummi saja", Begitulah Jawab anakku sambil memegang erat ujung jilbab. Kemudian kuputuskan mencari sang ustadzah kuceritakan kegiatannya di rumah yang terpuji dan kusampaikan kebaikan yang ingin dilakukannya hari ini bersama ustadzah Alhamdulillah akhirnya termotivasi juga hatinya dan mau belajar sama ustadzahnya. 

Terus bagaimana kalau saat saya ada keperluan di luar? Saya mau menghadiri acara di seminar. Kali ini saya berusaha untuk berpikir positif. Saya siapkan mereka sebelum berangkat. Kita buat kesepakatan nanti disana menjaga ketenangan. Silakan disiapkan barang-barangnya sendiri yang ingin dibawa untuk mainan disana. Beberapa saat kemuadian keduanya sudah siap dengan tas kecilnya masing-masing. Berisi buku dan alat tulis yang ingin mereka gunakan untuk mengisi waktu di sana saat saya ikut seminar. Alhamdulillah dari awal sampai akhir berjalan lancar tak ada kegaduhan yang mereka timbulkan. Malahan si kecil tertidur dengan pulasnya di kursi.

Oh ya ada satu momen yang paling mengesankan bagiku. Saat ujian setoran hafalan juz 30. Setelah satu juz saya baca kemudian dapat 10 soal sambung ayat. Ada satu soal yang saya benar- benar blank waktu itu. Saat dapat akhir ayat dan harus sambung ke surat berikutnya. Kemaudian si kakak membisikkan kepadaku "Al Infithar mi" spontan saya baca surat Al Infithar ya Alhamdulillah teenyata benar. Yang saya kagumi bukan saya jadi bisa menjawab tapi ternyata anak saya ikut menyimak ketika saya membaca dan dapat pertanyaan. Semangat ya Nak semoga kelak jadi Hafidzah.
Ya begitulah kisah ceritaku dengan kedua anakku. Berusaha menikmati setiap kebersamaan  bersama mereka.

# Day 22
# Suratmi Ningsih
# Buah hatiku Amanah Allah
# 30 DWC jilid 10


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buku sumber inspirasiku Masih ku ingat betul peristiwa saat itu. Kenangan 10 tahun silam. Jadi anak rantau di kota perindustrian.  Se...